Belajar dari Semangat Difabel UIN Sunan Kalijaga



Peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus pun memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan, baik berupa proses belajar mengajar maupun fasilitas penunjang pendidikan. Mereka juga manusia yang memiliki harapan untuk menjadikan kehidupan lebih bermakna dan bermanfaat bagi sesama.

Saya salut dengan perjuangan PSLD UIN Sunan Kalijaga beserta staf dan mahasiswa relawannya, yang secara aktif memberikan pelayanan terbaik bagi mahasiswa difabel. Membantu mengenalkan kampus, membantu ketika terjadi problem teknis maupun pribadi, dan masih banyak lainnya. Perjuangan mereka muncul pada motivasi mahasiswa difabel begitu besar  sampai mereka (difabel) nampak seperti orang biasa.
Motivasi apa sih yang membuat mereka tetap menikmati kehidupan yang tidak 'sempurna'? 

Kalau pengalaman saya pas ngobrol dengan salah satu mahasiswa difabel tuna netra, dia memiliki semangat, meskipun tidak bisa melihat indahnya dunia. Semangatnya adalah kehidupan itu sendiri. Semangat meraih prestasi dan semangat menjadi pribadi yang berkualitas.

Dan momen 15 Desember tahun lalu (2012) menjadi momen partisipasi saya berkarya semampu dan sesuai bidang saya. Waktu itu ada informasi ada lomba media pembelajaran dan alat bantu untuk difabel dari Pak Nurochman (dosen pembimbing skripsi saya). Iseng-iseng saya menuliskan aplikasi-aplikasi yang mungkin bisa berguna bagi difabel. Akhirnya saya daftarkan saja aplikasi Qicodi (Qibla Compass Difabel) sederhana. Tak disangka, aplikasi tersebut masuk 3 besar media yang terpilih dan menjadi juara kedua.

Momen itu memberikan banyak pengalaman dan semangat untuk tidak mudah menyerah . 53mangat.

 

0 Response to "Belajar dari Semangat Difabel UIN Sunan Kalijaga"

Post a Comment